Sabtu, 27 Mei 2017

Pentingnya Hutan Mangrove bagi Lingkungan Hidup

Hutan magrove merupakan sekumpulan pepohonan yang tumbuh di area sekitar garis pantai yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut serta berada pada tempat yang mengalami akumulasi bahan organik dan pelumpuran. Hutan mangrove yang juga biasa dikenal dengan sebutan hutan bakau ini merupakan sebuah ekosistem yang bersifat khas karena adanya aktivitas daur penggenangan oleh pasang surut air laut. Pada habitat ini hanya pohon mangrove / bakau yang mampu bertahan hidup dikarenakan proses evolusi serta adaptasi yang telah dilewati oleh tumbuhan mangrove.

Hutan mangrove memiliki fungsi yang sangat besar bagi lingkungan hidup kita diantarnya yakni :
1) sebagai tumbuhan yang mampu menahan arus air laut yang mengikis daratan pantai, dengan kata lain tumbuhan mangrove mampu untuk menahan air laut agar tidak mengikis tanah di garis pantai.
2) Sebagaimana fungsi tumbuhan yang lain, mangrove juga memiliki fungsi sebagai penyerap gas karbondioksida (CO2) dan penghasil oksigen (O2). 
3) Hutan mangrove memiliki peran sebagai tempat hidup berbagai macam biota laut seperti ikan-ikan kecil untuk berlindung dan mencari makan. Selain binatang laut, bagi hutan mangrove yang ruag lingkupnya cukup besar sering terdapat jenis binatang darat di dalamnya seperti kera dan burung.
Dari beberapa fungsi hutan bakau yang telah dipaparkan di atas, tentunya hal yang paling esensial bagi kelangsungan hidup kita adalah fungsi hutan mangrove sebagai penghasil oksigen (O2) dan penyerap gas karbondioksida serta sebagai pencegahan abrasi. Rusaknya hutan mangrove dapat mengakibatkan hilangnya fungsi-fungsi di tersebut. Bayangkan jika hutan rusak, tak ada lagi sesuatu yang mampu menghasilkan oksigen (O2) untuk kita bernapas, tidak adalagi sesuatu yang dapat menyerap gas (CO2) yang merupakan gas racun dab berbahaya bagi tubuh manusia, serta tak ada lagi suatu pertahanan kokoh yang mampu menahan laju abrasi.
Saat ini keadaan hutan mangrove di sepanjang pesisir pantai Indonesia begitu memperihatinkan. Sebagian besar rusak dan diantaranya habis akibat aktivitas penebangan dan lain-lain. Hal ini tentu akan berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan hidup kita.
Mengingat begitu pentingnya hutan mangrove bagi kelangsungan lingkungan hidup kita, perlu adanya solusi untuk penanggulangan masalah yang selama ini terjadi pada hutan mangrove. Solusi yang dapat kita lakukan diantaranya yakni ; 
1) perlu adanya lahan konservasi terhadap hutan mangrove dalam rangka penjagaan dan pelestarian hutan agar fungsi-fungsi mangrove dapat dioptimalkan sebaik mungkin. 
2) melakukan reboisasi atau penanaman kembali terhadap hutan mangrove yang telah rusak. Dalam hal ini perlu adanya keterlibatan antara pemerintah dan warga secara teknis dalam pelaksanaan reboisasi. 
3) Perlu adanya manajemen tata ruang yang baik terhadap wilayah pesisir pantai berhutan mangrove, sehingga dapat berpotensi ekonomis dalam hal pariwisata. Provit yang diperoleh dari wisata alam ini dapat digunakan untuk keterbutuhan pelestarian mangrove. 
4) perlu adanya penyuluhan dalam rangka memahamkan masyarakat terhadap pentingnya kelestarian hutan mangrove bagi lingkungan hidup. 
5) Sanksi hukum yang tegas terhadap siapapun yang merusak kelestarian hutan mangrove.


Kelestarian lingkungan hidup amatlah penting bagi kita. Menjaga mangrove merupakan bagian dari tindakan nyata atas kepedulian kita terhadap lestarinya alam dan kehidupan. Mulai dari diri sendiri, marilah jaga lingkungan demi hidup dan kehidupan.



sumber : http://kakakpintar.com/contoh-artikel-bahasa-indonesia-tentang-lingkungan-hidup/

Hutan Kota

Hutan kota (urban forest) adalah suatu lahan yang ditumbuhi pohon-pohonan di wilayah perkotaan, di tanah negara atau tanah milik, berfungsi sebagai penyangga lingkungan dalam hal pengaturan tata air, udara, habitat flora dan fauna, yang memiliki  nilai estetika dan dengan luasan yang solid merupakan ruang terbuka hijau pohon-pohonan, serta areal tersebut ditetapkan sebagai hutan kota.
Hutan kota juga dapat didefinisikan sebagai pepohonan dan hutan di dalam kota dn di sekitar kota yang berguna dan berpotensi sebagai pengelola lingkungan perkotaan oleh tumbuhan dalam hal ameliorasi iklim, rekreasi, estetika, fisiologi, sosial, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat kota. 
Fakuara (1987) mendefinisikan hutan kota sebagai tumbuhan atau vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan yang sebesar-besarnya  dalam kegunaan-kegunaan proteksi, estetika, rekreasi, dan kegunaan khusus lainnya.


Fungsi Hutan Kota
Hutan kota dapat berfungsi sebagai komponen perlindungan kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dan sekitarnya, karena dapat berfungsi sebagai penyerap polutan,  penyerap bau, peredam kebisingan, habitat satwa liar, ameliorasi iklim, mengurangi bahaya banjir, mengurangi intrusi air laut, pengelolaan air tanah, penahan angin dan lainnya.

1. Identitas Kota dan Pelestarian Plasma Nutfah
Hutan kota dapat dijadikan tempat koleksi  keaneka-ragaman hayati, dengan flora dan fauna yang spesifik-endemik untuk suatu daerah.  Beberapa jenis tanaman dan hewan merupakan simbol suatu kota atau daerah. Misalnya Enau, Kayu Manis, Trulek kayu, Pelatuk Jambul Jingga, Kambing Gunung, dan lainnya.

2. Penahan dan Penyaring Partikel dari udara
Daun yang berbulu dan berlekuk, seperti daun bunga matahari, mempunyai kemampuan tinggi menyerap partikel dari udara.
Jenis pohon berdaun lebar mampu mereduksi partikel dalam udara kota hingga 30%, sedangkan pohon berdaun jarum mampu mereduksi partikel dalam udara kota hingga 42%.
3.  Penyerap dan penyerap partikel Timbal

Umasda (1989) mengklasifikasikan kemampuan jenis pohon dalam menyerap partikel timbal dari udara sbb:
- Jenis pohon dengan kemampuan menyerap sangat baik: Jambu batu, Ketapang, dan Bungur
- Jenis pohon dengan kemampuan menyerap sedang: Mahoni, Mangga, Cemara gunung, Angsana
-Jenis pohon dengan kemampuan menyerap rendah: Daun kupu-kupu, Kersen, Kenanga,  Kere payung, Karet munding, Kenari, Akasia, Dadap.

4. Penyerap dan penjerap Debu Semen
Jenis tanaman yang cocok untuk tujuan ini adalah Mahoni, Tanjung, Kenari, Meranti merah, Kere payung, dan Kayu Hitam (Irawati, 1990).  

5. Peredam Kebisingan
Jenis tumbuhan yang efektif meredam suara ialah yang tajuknya tebal dengan daun yang rindang. 
6. Menanggulangi Hujan Asam
Pohon dapat membantu mengatasi dampak hujan asam melalui proses fisiologis yang disebut GUTASI. Proses ini akan menghasilkan unsur alkalis seperti Ca, Na, K, dan Mg, serta senyawa organik seperti glutamin dan gula (Smith, 1981). Unsur alkalis ini akan menhgikat sulfat atau nitrat yang terdapat dalam air hujan.

7. Penyerap Karbon-monoksida
Hutan kota dapat menyerap gas CO hingga 2.2 ton/ha/tahun (Smith, 1981).  Gas CO bersenyawa dengan O2  menjadi CO2, dan selanjutnya gas CO2 ini serap daun untuk fotosintesis.

8. Penyerap CO2 dan Penghasil O2
Umumnya tanaman C3 lebih responsif  terhadap kenaikan konsentrasi CO2 dalam udara, dibandingkan dengan tanaman C4. Titik kompensasi CO2 tumbuhan C3 dapat mencapai 50-150 ppm. 

9. Penahan Angin
Hutan kota mempunyai kemampuan mengurangi kecepatan aliran angin kencang hingga 75-80%. Persyaratan jenis pohon untuk keperluan ini adalah (1) memiliki dahan yang kuat, biasanya berat jenis kayunya > 0.4, (2) daunnya tidak mudah rontok oleh terpaan angin, (3) akarnya menghunjam kuat masuk ke dalam tanah, (4) mempunyai kerapatan yang cukup (50-60%). 

10. Peredam Bau
Tanaman dapat menyerap bau busuk secara langsung, pepohonan mampu menahan gerakan angin yang mengalir dari sumber bau.  Tanaman tertentu dapat mengeluarkan bau harum yang dapat menetralisir bau busuk; jenis tanaman ini seperti Cempaka dan Tanjung.

11. Mengurangi Penggenangan
Akar tanaman berfugnsi untuk menyerap air permukaan sehingga jika akan mengurangi genangan air di atas permukaan tanah.

12. Mengatasi Intrusi Air Laut
Jenis tanaman yang dipilih adalah tahan salinitas tinggi, evapo-transpirasi rendah, mempunyai kemampuan memperbesar infiltrasi dan perkolasi air hujan.

13. Ameliorasi Iklim
Daun mempunyai kemampuan memantulkan sinar infra merah sebesar 70%, dan visible light 6-12%. Cahaya hijau yang paling banyak dipantulkan daun (10-20%), sedangkan jingga dan merah paling sedikit dipantulkan daun (3-10%). Ultra violet yang dapat dipantulkan daun tidak lebih dari 3% (Larcher, 1980).Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman  daaripada daerah yang tidak ditumbuhi oleh tanaman.  Suhu udara yang dianggap nyaman untuk manusia di Indonesia adalah sekitar 25 derajat C.

14. Konservasi Air Tanah
Besarnya intersepsi tajuk ditentukan oleh jenis tanaman, jarak tanam, kondisi angin, evaporasi, intensitas hujan, lamanya hujan, dan curah hujan.  Sistem perakaran pohon dan seresah yang berubah menjadi bahan organik tanah akan memperbesar jumlah pori tanah, infiltrasi dan perkolasi air hujan.

15. Peredam Cahaya Silau
Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan cahaya matahari tergantung pada ukuran dan kerapatannya.  Jenis pohon dapat dipilih  berdasarkan ketinggian maupun kerimbunan tajuknya.

16. Meningkatkan Keindahan
Tanaman dengan bentuk, warna dan tekstur tertentu dapat dipadukan dengan benda-benda buatan seperti bangunan gedung, jalan dan lainnya untuk mendapatkan komposisi tertentu. Warna daun,  bunga, atau buah menjadi komponen yang kontras atau untuk memenuhi rancangan yang bergradasi lembut.

17. Sebagai Habitat Burunga
Salah satu saywa liar yang dapat dikembangkan di wilayah perkotaan adalah burung. Beberapa manfaat dari satwa ini adalah
(1) membantu mengendalikan serangga hama,
(2) membantu penyerbukan bunga,
(3) mempunyai nilai ekonomi tinggi,
(4) memiliki suara yang khas, menimbulkan suasana yang menyenangkan,
(5) atraksi rekreasi,
(6) sumber plasma nutfah,
(7) objek pendidikan dan penelitian.
Beberapa jenis tumbuhan yang banyak difatangi burung adalah
(1) Ficus spp.
(2) dadap,
(3) Dangdeur berbunga merah,
(4) aren,
(5) Bambu. 




Sumber : http://gudanginfo-indonesia.blogspot.co.id/2016/06/pengertian-hutan-kota-dan-fungsinya.html

Pentingnya Hutan Mangrove bagi Lingkungan Hidup Hutan magrove merupakan sekumpulan pepohonan yang tumbuh di area sekitar garis pantai yan...